Upaya regenerasi petani muda kembali mendapat sorotan setelah JHL Foundation menyalurkan Beasiswa Kelapa kepada lebih dari 100 mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB) di Pangkalpinang, Rabu, 2 September 2026. Program ini dinilai relevan tidak hanya bagi Kepulauan Bangka Belitung, tetapi juga daerah lain yang bergantung pada pertanian, termasuk Sumatera Utara yang banyak mengandalkan tenaga kerja agraris di pedesaan.
Penyerahan beasiswa dihadiri Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani beserta jajaran rektorat UBB. Dewan Pembina JHL Foundation, Jerry Hermawan Lo, menegaskan bahwa persoalan pertanian nasional sudah melampaui isu lahan dan produksi belaka. Kualitas sumber daya manusia serta minimnya minat anak muda bertani justru menjadi tantangan yang mendesak.
Usia petani menua, minat generasi muda masih rendah
Jerry memaparkan gambaran yang cukup mencemaskan. Sebagian besar petani Indonesia kini berusia di atas 45 tahun, sementara generasi muda relatif enggan memilih profesi di lahan. Ia juga menyoroti temuan bahwa sekitar 80 persen petani tidak menamatkan sekolah dasar. Kondisi itu, menurutnya, menyulitkan modernisasi dan peningkatan produktivitas.
Tanpa regenerasi yang terencana, rantai produksi pangan berisiko lemah di masa depan. Pendidikan yang lebih baik bagi calon petani menjadi prasyarat agar sektor ini mampu bersaing dan tetap menarik secara ekonomi. Bagi pembaca di Medan dan wilayah Sumut, pola serupa sering terlihat di sentra hortikultura dan perkebunan rakyat: regenerasi berjalan lambat bila tidak ada dukungan beasiswa, pelatihan, dan akses pasar.
Beasiswa Kelapa sebagai pintu masuk ke dunia pertanian
Beasiswa Kelapa yang diberikan JHL Foundation dirancang untuk menarik mahasiswa UBB agar lebih dekat dengan isu pertanian dan perkebunan. Selain bantuan biaya pendidikan, momentum ini dimanfaatkan untuk menanamkan pemahaman bahwa bertani bukan sekadar pekerjaan tradisional, melainkan profesi yang menuntut pengetahuan, manajemen, dan inovasi.
Jerry menekankan pentingnya meningkatkan mutu pendidikan di bidang pertanian. Ia menilai sulit mengharapkan kemajuan jika kualitas SDM masih terbatas. Regenerasi petani muda, kata dia, harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas akademik dan praktik lapangan agar lulusan siap mengelola lahan secara profesional.
Pertanian residual di era kecerdasan buatan
Di tengah maraknya kecerdasan buatan atau artificial intelligence, Jerry mengingatkan bahwa pertanian termasuk sektor yang tidak mudah digantikan sepenuhnya oleh mesin. Tanah subur dan kekayaan alam Indonesia disebutnya sebagai keunggulan komparatif yang harus dikelola lintas generasi.
Ia membedakan logika menanam dengan menambang. Hasil tanam, bila dikelola baik, dapat terus memberi manfaat berkesinambungan bagi anak cucu. Argumen itu menjadi landasan mengapa investasi pada petani muda dinilai lebih strategis daripada sekadar mengejar output jangka pendek.
Gagasan lahan 1.000 hektare bersama pemerintah daerah
Selain penyaluran beasiswa, Jerry mendorong UBB merancang model pendidikan pertanian yang lebih menyatu dengan praktik di lapangan. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah kerja sama operasional (KSO) antara UBB dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk mengelola lahan pertanian sekitar 1.000 hektare dalam jangka waktu 30 tahun.
Skema jangka panjang semacam itu diharapkan memberi ruang riset terapan, magang mahasiswa, dan inkubasi wirausaha tani. Jika berhasil, pola kemitraan kampus–pemerintah daerah bisa menjadi rujukan bagi provinsi lain yang ingin mempercepat regenerasi petani muda tanpa meninggalkan aspek keberlanjutan lahan.
Secara keseluruhan, penyaluran Beasiswa Kelapa di UBB menandai sinyal bahwa kesejahteraan rakyat lewat pertanian tidak cukup mengandalkan perluasan lahan saja. Memperbaiki pendidikan, membuka jalur karier bagi anak muda, serta mengikat kerja sama kelembagaan menjadi paket yang saling menopang. Peristiwa di Pangkalpinang ini layak dicermati pemangku kepentingan di daerah lain, termasuk Sumut, sebagai pengingat bahwa masa depan pangan bergantung pada siapa yang mau dan mampu menggarap lahan esok hari.
Sumber: Sindo News.
