DAERAH
Indeks
Ekonomi

Harga Minyak Mentah Tembus USD100 Imbas Gangguan Rute Timur Tengah

Harga minyak dunia kembali menjadi sorotan setelah menembus ambang psikologis USD100 per barel. Ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu jalur perdagangan energi, termasuk Selat Hormuz dan Laut Merah, memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, pergerakan ini relevan karena harga energi global sering berimbas pada biaya transportasi dan distribusi BBM di daerah.

Situasi semakin rumit setelah operasional pipa strategis Arab Saudi sempat dihentikan menyusul serangan pesawat nirawak. Di saat yang sama, penguasaan wilayah strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab oleh kelompok bersenjata menambah risiko pada rute pelayaran energi yang selama ini diandalkan pasar internasional.

Pemicu lonjakan harga di pasar energi

Menurut laporan yang dirilis Minggu, 13 September 2026, harga minyak mentah dunia melampaui USD100 per barel seiring memanasnya situasi geopolitik. Gangguan tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan merambah sejumlah jalur vital yang menghubungkan produsen di kawasan Teluk dengan konsumen global.

Ekonom dan penulis buletin Creatively-Destruct, Javed Hassan, menekankan bahwa dampak serangan militer tidak semata diukur dari volume barel yang hilang dari pasar. Ia menilai yang lebih krusial adalah rusaknya fleksibilitas operasional, mencakup jalur alternatif, kapasitas cadangan, serta solusi logistik yang biasanya dipakai pasar untuk menyerap guncangan pasokan.

Pipa East-West Saudi dan tekanan di Laut Merah

Arab Saudi menghentikan sementara operasional pipa East-West yang membentang sekitar 1.200 kilometer. Pipa itu menjadi jalur utama pengiriman minyak dari wilayah timur kerajaan menuju pelabuhan Yanbu di tepi Laut Merah. Penutupan tersebut terjadi setelah serangan drone yang otoritas Saudi sebut berasal dari Provinsi Maysan, Irak.

Infrastruktur ekspor di Yanbu ikut menjadi perhatian karena berperan penting bila Selat Hormuz mengalami gangguan. Ketika kemampuan mengalihkan ekspor berkurang, pasar menilai ruang manuver pasokan global menyempit. Kondisi ini memperbesar tekanan harga di tengah sentimen risk-off yang sudah tinggi.

Houthi, Pulau Perim, dan risiko Bab al-Mandab

Kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran dilaporkan merebut Pulau Perim atau Mayun di Selat Bab al-Mandab setelah sebelumnya menguasai pelabuhan Mocha di pesisir barat Yaman. Langkah itu meningkatkan risiko pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Selat tersebut merupakan salah satu koridor penting perdagangan energi dunia. Sekitar 12 persen arus perdagangan global biasanya melewati jalur ini. Gangguan di kawasan itu berpotensi memaksa kapal mengambil rute lebih panjang, menaikkan biaya asuransi, dan memperlambat distribusi minyak serta gas.

  • Gangguan di Selat Hormuz dan Laut Merah membatasi opsi pengiriman.
  • Penutupan pipa East-West mengurangi fleksibilitas ekspor Saudi.
  • Penguasaan titik strategis di Bab al-Mandab menaikkan premi risiko pelayaran.

Implikasi bagi pasar dan pemantauan di dalam negeri

Para pelaku pasar energi memantau apakah gangguan bersifat sementara atau berlanjut. Jika jalur alternatif dan kapasitas cadangan tidak mampu menahan guncangan, volatilitas harga bisa bertahan lebih lama. Di Indonesia, pergerakan minyak dunia biasanya menjadi salah satu acuan dalam evaluasi kebijakan energi dan harga bahan bakar, meskipun keputusan final tetap bergantung pada formulasi pemerintah dan kondisi fiskal.

Untuk kawasan Sumut, dampak tidak langsung dapat terasa pada biaya logistik antarpulau dan harga barang yang sensitif terhadap ongkos angkut. Pemantauan berita harga minyak dunia tetap penting bagi pelaku usaha dan konsumen di Medan agar dapat menyesuaikan perencanaan jangka pendek tanpa spekulasi berlebihan.

Secara keseluruhan, kombinasi ketegangan di Timur Tengah, gangguan infrastruktur Saudi, dan risiko di Bab al-Mandab menjadi faktor utama di balik tembusnya harga minyak di atas USD100 per barel. Pasar akan terus menimbang sinyal diplomasi, keamanan pelayaran, serta respons produsen besar sebelum menentukan arah harga selanjutnya.

Sumber: Sindo News.

Tag: harga minyak, Laut Merah, Timur Tengah, pipa Saudi, energi global, Selat Hormuz, pasar minyak, Medan