DAERAH
Indeks
Ekonomi

Saldo Awal Rp50 Ribu Belum Cukup, Literasi Keuangan Gen Z Jadi Kunci

Rencana pembukaan rekening bank secara massal bagi warga berusia 17 tahun ke atas, lengkap dengan saldo awal Rp50.000, kembali mengangkat isu literasi keuangan muda di Indonesia. Tanpa bekal pemahaman yang memadai, kepemilikan rekening dinilai belum tentu mendorong inklusi keuangan yang sehat, termasuk bagi generasi muda di Sumatera Utara dan kota-kota besar seperti Medan.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menegaskan bahwa pekerjaan rumah pemerintah tidak berhenti pada angka kepemilikan rekening. Yang lebih mendesak adalah mempersempit jurang literasi keuangan yang masih lebar di kalangan usia muda.

Rekening saja belum menjamin inklusi berkualitas

Menurut penilaian tersebut, inklusi keuangan tidak cukup diukur dari seberapa banyak orang memiliki rekening. Generasi muda yang baru memegang akun bank tanpa pemahaman pengelolaan uang, investasi, kredit, hingga risiko utang, berpotensi justru menghadapi masalah baru.

Nailul mengingatkan, anak muda yang belum melek keuangan rentan menjadi korban penipuan. Rekening juga bisa disalahgunakan untuk transaksi judi daring atau bahkan diperjualbelikan. Situasi ini membuat kebijakan pembukaan massal perlu dibarengi edukasi yang serius dan berkelanjutan.

Angka kepemilikan tinggi, pemahaman masih tertinggal

Tingkat kepemilikan rekening penduduk usia dewasa di Indonesia dilaporkan sudah mencapai sekitar 93 persen. Capaian itu terlihat impresif di atas kertas, namun belum mencerminkan kualitas literasi keuangan secara merata.

Banyak anak muda masih kesulitan membedakan kebutuhan dan keinginan, mengelola tabungan jangka pendek, atau memahami produk keuangan dasar. Akibatnya, saldo awal yang diberikan pemerintah bisa cepat habis tanpa manfaat ekonomi yang berarti, atau rekening menganggur setelah dibuka.

Target ratusan juta rekening perlu dikaji ulang

Wacana pembukaan hingga sekitar 200 juta rekening dinilai perlu ditinjau ulang berdasarkan demografi dan data kepemilikan rekening yang sudah ada. Penambahan akun dalam jumlah besar berisiko tidak memberi dampak signifikan jika tidak diikuti aktivitas ekonomi produktif.

Bagi daerah seperti Sumatera Utara, peluangnya tetap terbuka: anak muda Medan dan kota sekitarnya bisa memanfaatkan rekening untuk menabung hasil usaha kecil, menerima transfer keluarga, atau mengakses layanan digital yang sah. Namun peluang itu hanya terwujud jika literasi ikut diperkuat di sekolah, kampus, dan komunitas.

  • Pahami cara menjaga keamanan PIN dan data pribadi.
  • Bedakan tabungan rutin dengan pengeluaran konsumtif.
  • Waspadai tawaran pinjaman instan dan judi daring.
  • Manfaatkan rekening untuk transaksi legal dan produktif.

Edukasi harus jalan beriringan dengan kebijakan

Penguatan literasi keuangan muda menjadi prasyarat agar kebijakan saldo awal Rp50.000 tidak berhenti sebagai simbol. Materi edukasi perlu menyentuh pengelolaan kas harian, risiko utang, dan bahaya penyalahgunaan rekening, dengan bahasa yang mudah dipahami remaja dan mahasiswa.

Kolaborasi bank, OJK, sekolah, serta pemerintah daerah dinilai penting agar pesan literasi sampai ke pelosok. Tanpa itu, target kuantitas rekening bisa jauh meninggalkan kualitas pemahaman masyarakat.

Pada akhirnya, rekening dan saldo awal hanyalah pintu masuk. Manfaat ekonomi yang nyata bergantung pada kemampuan generasi muda mengelola uang secara bijak, menghindari jebakan digital, dan mengarahkan dana ke kegiatan yang produktif. Kebijakan inklusi keuangan baru akan terasa dampaknya bila literasi tumbuh seiring kepemilikan akun.

Sumber: Sindo News.

Tag: literasi keuangan, rekening bank, usia 17 tahun, inklusi keuangan, generasi muda, Celios, saldo awal, Medan Sumut