Pemerintah Amerika Serikat kembali menyoroti surplus dagang China yang dinilai terlalu besar bagi keseimbangan ekonomi dunia. Menjelang pertemuan para pemimpin keuangan G20, Washington menyerukan agar seluruh anggota forum tersebut meninjau ulang syarat perdagangan masing-masing dengan Beijing. Isu ini relevan bagi pembaca di Sumatera Utara karena aliran ekspor-impor global kerap memengaruhi harga komoditas dan rantai pasok yang masuk ke pelabuhan Medan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menekankan urgensi langkah bersama. Menurutnya, lonjakan pengiriman barang dari China terjadi di saat konsumsi dalam negeri negeri itu melemah, sehingga Beijing mengandalkan pasar luar untuk menopang pertumbuhan.
Angka surplus dan peringatan Bessent
Bessent menyatakan dunia tidak mampu terus menanggung surplus perdagangan China sebesar USD1,2 triliun. Dengan kurs Rp17.659 per dolar AS, nilai itu setara sekitar Rp21.191 triliun. Ia menilai model tersebut tidak berkelanjutan dan memicu ketimpangan di banyak kawasan.
Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara menjelang pertemuan pejabat keuangan G20. Bessent menegaskan evaluasi kolektif terhadap syarat dagang dengan China sudah mendesak agar serbuan ekspor tidak semakin menekan industri di negara mitra.
Dampak tarif AS dan pengalihan pasar ekspor
Kebijakan proteksi dan pembatasan impor di Amerika Serikat, termasuk pada sektor kendaraan, dinilai memaksa produsen China mengalihkan barang ke Eropa dan Amerika Latin. Di sisi lain, penerapan tarif oleh Presiden Donald Trump dilaporkan memangkas defisit perdagangan AS terhadap China hingga sepertiga.
Pada semester pertama 2026, defisit dagang AS-China tercatat USD73,9 miliar. Angka itu menjadi salah satu argumen Washington bahwa langkah pembatasan mampu menahan tekanan, meski sekaligus mendorong Beijing mencari pasar alternatif di luar Amerika Utara.
Diplomasi Trump-Xi dan opsi potong tarif
Meski ketegangan dagang masih tinggi, kedua negara membuka ruang perundingan. KTT tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan pada akhir September. Agenda itu dinilai krusial untuk meredam eskalasi lebih lanjut.
Bessent mengungkapkan kemungkinan kesepakatan saling memangkas tarif untuk produk non-strategis senilai sekitar USD30 miliar di masing-masing pihak. Langkah terbatas itu diharapkan memberi napas bagi pelaku usaha tanpa mengorbankan sektor yang dianggap strategis oleh Washington maupun Beijing.
Guardrails AI dan sinyal bagi mitra dagang Asia
Selain isu tarif, kedua raksasa ekonomi dijadwalkan membahas batas aman atau guardrails untuk teknologi kecerdasan buatan. Tujuannya mencegah model AI canggih jatuh ke tangan aktor non-negara. Pembahasan ini menambah dimensi baru dalam rivalitas AS-China yang selama ini didominasi barang fisik dan komponen industri.
Bagi Indonesia, termasuk kawasan Sumatera Utara yang bergantung pada perdagangan internasional melalui Pelabuhan Belawan dan rantai pasok manufaktur-perkebunan, dinamika G20 terkait China layak dicermati. Perubahan arus ekspor Beijing ke Eropa dan Amerika Latin dapat menggeser harga serta ketersediaan barang antara di pasar Asia, meski dampak rinci masih bergantung pada kebijakan domestik masing-masing negara.
Inti pesan Washington tetap sama: surplus dagang China dalam skala triliunan dolar dianggap beban bersama, sehingga respons terkoordinasi di forum G20 dipandang lebih efektif daripada langkah sepihak. Bagaimana anggota G20 merespons seruan Bessent akan terlihat pada hasil pertemuan keuangan mendatang serta arah pembicaraan Trump-Xi di penghujung September.
Sumber: Sindo News.
