DAERAH
Indeks
Ekonomi

Telkom Akses Bidik Posisi Rujukan Infrastruktur Digital dalam Lima Tahun

Perubahan arah bisnis di sektor telekomunikasi nasional kembali menjadi sorotan setelah PT Telkom Akses menegaskan agenda Telkom Akses transformasi di bawah Direktur Utama Irphan Wijaya. Perusahaan yang selama ini dikenal lewat pembangunan dan pengelolaan jaringan kini menargetkan peran lebih luas sebagai pengelola infrastruktur digital yang produktif serta mampu memberi nilai strategis bagi TelkomGroup. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, arah ini relevan karena kualitas jaringan dan layanan digital di daerah sangat bergantung pada standar deployment serta operasi lapangan yang andal.

Dalam horizon lima tahun, Telkom Akses ingin menempatkan diri sebagai salah satu acuan industri telekomunikasi Indonesia. Visi itu tidak hanya soal memperbesar volume jaringan, melainkan membangun organisasi yang lebih tangguh, lincah, dan berkelanjutan. Irphan menekankan bahwa perusahaan harus bergerak dari sekadar pelaksana teknis menjadi strategic value creator, sekaligus menjadi tolok ukur nasional untuk kualitas pemasangan, produktivitas, operasi lapangan berbasis digital, dan keselamatan kerja.

Arah baru dari pengelola jaringan ke infrastruktur digital

Pergeseran identitas perusahaan digambarkan sebagai langkah menyelaraskan kapabilitas internal dengan kebutuhan industri yang makin kompleks. Infrastruktur digital tidak lagi berhenti pada kabel dan perangkat, tetapi mencakup cara kerja, model layanan, serta kemampuan menciptakan efisiensi bagi grup usaha dan pelanggan eksternal. Dengan kerangka itu, Telkom Akses menempatkan produktivitas dan adaptabilitas sebagai ukuran keberhasilan transformasi, bukan sekadar penyelesaian proyek fisik.

Irphan menyampaikan bahwa lima tahun ke depan bukan hanya momentum menambah jumlah jaringan yang dibangun atau dikelola. Fokus utamanya adalah memperkuat fondasi perusahaan agar mampu memberi kontribusi strategis yang terukur. Pendekatan tersebut menuntut perbaikan menyeluruh pada proses bisnis, teknologi, sumber daya manusia, hingga budaya organisasi agar seluruh elemen bergerak selaras.

Lima pilar transformasi yang ditetapkan manajemen

Untuk mengejar target tersebut, manajemen merumuskan lima fokus utama. Pertama, penguatan operational excellence. Kedua, digitalisasi proses dengan memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan. Ketiga, pengembangan human capital sebagai keunggulan kompetitif. Keempat, perluasan sumber pertumbuhan di luar captive market. Kelima, penguatan budaya integritas, disiplin operasi, dan perbaikan berkelanjutan.

Kelima pilar itu dirancang agar transformasi tidak bersifat parsial. Digitalisasi tanpa kesiapan SDM, atau ekspansi pasar tanpa disiplin operasi, dinilai berisiko menggerus mutu layanan. Karena itu, agenda perubahan mencakup business model, process, technology, people, dan culture secara bersamaan agar hasilnya lebih tahan lama.

Operational excellence dan AI sebagai fondasi kerja

Operational excellence diposisikan sebagai landasan utama. Empat aspek yang digarisbawahi meliputi kualitas, kecepatan eksekusi, produktivitas, dan keselamatan kerja. Keempatnya diarahkan untuk menaikkan mutu layanan sekaligus menekan pemborosan operasional. Di tengah dinamika industri telekomunikasi, standardisasi proses menjadi prasyarat agar kinerja di lapangan lebih konsisten.

Sejalan dengan itu, perusahaan memperkuat digitalisasi, termasuk predictive maintenance dan analitik berbasis AI. Pemanfaatan data diharapkan membantu deteksi dini gangguan, perencanaan pemeliharaan yang lebih tepat, serta pengambilan keputusan operasi yang lebih cepat. Transformasi teknologi ini dilengkapi penataan ulang cara kerja agar manfaat AI benar-benar terasa di tingkat lapangan, bukan hanya di lapisan aplikasi.

Portofolio layanan dan penajaman pasar eksternal

Dari sisi bisnis, Telkom Akses akan menguatkan portofolio Managed Services, Deployment and Construction, serta Value Added Managed Services. Selain melayani kebutuhan internal grup, perusahaan menargetkan external market sebagai salah satu mesin pertumbuhan utama. Segmen yang disasar mencakup other licensed operator, internet service provider, dan enterprise.

Strategi itu menandai pergeseran dari ketergantungan pada pasar captive menuju kompetisi yang lebih terbuka. Dengan reputasi di bidang deployment dan operasi, perusahaan berupaya menawarkan layanan yang dapat diukur dari sisi keandalan, kecepatan, dan keselamatan. Bagi daerah seperti Sumatera Utara yang terus membutuhkan pemerataan konektivitas, standar nasional yang lebih tinggi pada infrastruktur digital berpotensi memberi efek turunan pada kualitas layanan di tingkat lokal, meskipun eksekusi di tiap wilayah tetap bergantung pada banyak faktor operasional.

Secara keseluruhan, agenda yang dijalankan Irphan Wijaya menempatkan Telkom Akses pada jalur menjadi acuan infrastruktur digital nasional. Keberhasilan transformasi akan diuji pada kemampuan menjaga mutu deployment, menaikkan produktivitas lewat digitalisasi, memperluas pasar secara sehat, serta menanamkan budaya kerja yang disiplin dan berintegritas. Langkah tersebut menjadi catatan penting bagi industri telekomunikasi yang sedang menuntut efisiensi sekaligus keandalan layanan dalam skala nasional.

Sumber: Sindo News.

Tag: Telkom Akses, infrastruktur digital, transformasi perusahaan, Irphan Wijaya, TelkomGroup, telekomunikasi, operational excellence, digitalisasi AI