Kabut asap masih menyelimuti Kota Balikpapan ketika ratusan anggota satgas karhutla, personel TNI-Polri, serta warga setempat menunaikan salat istisqa balikpapan di Lapangan Makodam VI Mulawarman, Kalimantan Timur, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Ibadah bersama itu digelar sebagai ikhtiar memohon hujan di tengah kekeringan panjang dan meluasnya kebakaran hutan serta lahan.
Bagi pembaca di Sumatera Utara, termasuk Medan, peristiwa ini mengingatkan bahwa musim kemarau dan asap lintas wilayah kerap menjadi isu nasional yang pantas diikuti. Langkah spiritual dan koordinasi aparat di Balikpapan menjadi potret respons kolektif terhadap tekanan cuaca ekstrem.
Lokasi ibadah di tengah kepungan asap
Kegiatan berlangsung di Lapangan Makodam VI Mulawarman meski udara di sekitar lokasi masih diselimuti kabut. Peserta tidak hanya dari unsur militer dan kepolisian. Hadir pula petugas BPBD, Damkar, Basarnas, dan berbagai elemen masyarakat yang bergabung dalam salat serta doa bersama.
Suasana lapangan mencerminkan urgensi situasi. Titik api dan lahan kering di sejumlah kawasan Kalimantan telah memicu kebutuhan respons berlapis, mulai dari pemadaman lapangan hingga permohonan hujan sebagai pelengkap upaya teknis.
Alasan kekeringan lebih dari sebulan
Pangdam VI Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono menegaskan bahwa salat istisqa merupakan bentuk ikhtiar dan doa bersama agar hujan segera turun. Ia menyoroti kondisi kekeringan yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Dalam penjelasannya, kombinasi lahan yang rentan terbakar dan minimnya curah hujan membuat penanganan karhutla membutuhkan dukungan semua pihak. Doa kolektif diposisikan sebagai pelengkap kerja operasional satgas di lapangan, bukan pengganti pemadaman.
Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan
Selain ratusan personel satgas karhutla, gelaran ini mempertemukan TNI, Polri, BPBD, Damkar, Basarnas, dan warga. Kehadiran lintas instansi menunjukkan bahwa penanganan asap dan api di Balikpapan diarahkan sebagai kerja bersama, bukan beban satu lembaga saja.
- Satgas kebakaran hutan dan lahan
- Personel TNI dan Polri
- BPBD, Damkar, serta Basarnas
- Unsur masyarakat setempat
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat disiplin lapangan sekaligus menjaga semangat warga yang terdampak kabut asap sehari-hari, terutama kelompok rentan dan pekerja outdoor.
Arti penting ikhtiar bersama bagi daerah lain
Meski pusat peristiwa berada di Balikpapan, pola respons serupa sering muncul di wilayah lain yang menghadapi kemarau dan lahan gambut. Pembaca Medan dan Sumut dapat melihat bahwa kombinasi doa publik, kesiapsiagaan BPBD, serta dukungan TNI-Polri menjadi narasi yang berulang setiap musim rawan api.
Informasi resmi dari lapangan menekankan bahwa hujan yang diharapkan akan membantu menekan sebaran api dan memperbaiki kualitas udara. Sementara menunggu curah hujan, satgas tetap dituntut menjaga kesiagaan pemadaman dan pemantauan titik panas.
Penutup: menunggu hujan, kerja lapangan berlanjut
Salat istisqa di Makodam VI Mulawarman menandai momen kebersamaan aparat dan warga Balikpapan dalam menghadapi karhutla. Fakta di lapangan tetap sama: kekeringan lebih dari sebulan, kabut asap, dan kebutuhan hujan yang mendesak.
Ke depan, efektivitas penanganan akan diukur dari menurunnya titik api, membaiknya udara, serta koordinasi berkelanjutan antarinstansi. Doa telah dipanjatkan; kerja teknis di lahan dan pemantauan cuaca tetap menjadi tumpuan utama.
Sumber: Sindo News.
