Gerakan pilah sampah berbasis komunitas keagamaan kembali digaungkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai cara memperluas kebiasaan memilah dari rumah hingga lingkungan ibadah. Pendekatan ini dinilai menjangkau warga lewat jejaring masjid, gereja, pura, vihara, dan kelenteng yang sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, pola serupa relevan karena volume sampah kota terus menuntut partisipasi warga, bukan hanya armada kebersihan.
Mengapa komunitas keagamaan dipilih sebagai ujung tombak
Komunitas keagamaan memiliki rutin pertemuan, struktur pengurus, serta pengaruh moral yang kuat. KLH mendorong agar momen pengajian, kebaktian, atau kegiatan sosial dimanfaatkan untuk menyosialisasikan pemilahan organik, anorganik, dan residu. Dengan begitu, pesan lingkungan tidak terasa sebagai imbauan teknis belaka, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama merawat ciptaan dan lingkungan hidup.
Di banyak wilayah, tempat ibadah sudah terbiasa mengelola kegiatan gotong royong. Menambah pos pemilahan atau bank sampah kecil di sekitar area tersebut memudahkan jemaah memulai kebiasaan baru tanpa harus menunggu fasilitas kota yang lengkap. Pendekatan komunitas juga menekan biaya kampanye karena penyebaran informasi berjalan lewat pengurus dan tokoh yang dipercaya.
Langkah praktis yang bisa diterapkan pengurus dan jemaah
Gerakan pilah sampah tidak harus diawali peralatan mahal. Pengurus dapat menempatkan wadah terpisah untuk sisa makanan, plastik, kertas, dan sampah residu di area parkir atau halaman. Edukasi singkat sebelum atau sesudah ibadah membantu jemaah memahami jenis sampah yang sering tertukar, misalnya popok, popok sekali pakai, atau kemasan berlapis yang sulit didaur ulang.
- Siapkan label jelas pada setiap wadah agar tidak campur aduk.
- Jadwalkan pengangkutan terpisah ke bank sampah atau pengepul resmi.
- Libatkan remaja masjid atau pemuda gereja sebagai relawan pemilah.
- Catat volume sampah terpilah agar progres komunitas terlihat.
Data sederhana itu berguna saat berkoordinasi dengan dinas lingkungan setempat atau lembaga daur ulang. Transparansi hasil juga membangun kepercayaan jemaah bahwa usaha mereka tidak sia-sia.
Relevansi bagi Medan dan kawasan urban Sumut
Medan sebagai pusat urban Sumatera Utara menghadapi tekanan sampah rumah tangga, pasar, dan kawasan komersial. Pemilahan di sumber mengurangi beban TPA dan memperpanjang usia tempat pemrosesan akhir. Komunitas keagamaan di kelurahan padat penduduk dapat menjadi titik kumpul edukasi karena frekuensi pertemuan warga relatif tinggi dibanding forum formal lainnya.
Selain itu, banyak kegiatan sosial keagamaan di Sumut sudah terbiasa mengelola dapur umum atau bakti sosial. Menyisipkan disiplin pilah sampah pada kegiatan tersebut melatih kebiasaan tanpa menambah beban acara. Portal daerah seperti Liputan Sumut memandang pola ini sebagai jembatan antara kebijakan nasional KLH dan praktik harian warga Medan.
Dukungan kelembagaan dan keberlanjutan gerakan
Agar tidak berhenti pada seruan sesaat, gerakan perlu ditopang pelatihan singkat, ketersediaan wadah, serta jalur penyaluran material daur ulang. KLH mendorong kolaborasi lintas pihak agar komunitas keagamaan tidak bekerja sendiri. Pemerintah daerah, pelaku usaha daur ulang, dan tokoh masyarakat dapat saling melengkapi: satu pihak menyiapkan aturan dan fasilitas, pihak lain menjaga konsistensi di tingkat akar rumput.
Keberlanjutan juga bergantung pada contoh dari pengurus. Ketika imam, pendeta, atau pemuka agama terlihat memilah sampah di lokasi kegiatan, jemaah lebih mudah meniru. Penghargaan sederhana bagi komunitas yang konsisten memilah dapat memperkuat motivasi tanpa harus mengandalkan sanksi.
Pada akhirnya, dorongan KLH terhadap gerakan pilah sampah berbasis komunitas keagamaan menempatkan pemilahan sebagai urusan bersama, bukan semata tugas petugas kebersihan. Warga Medan dan Sumut dapat menyesuaikan model ini dengan karakter lingkungan masing-masing, mulai dari skala mushola hingga kompleks perumahan yang aktif beribadah bersama. Langkah kecil yang konsisten tetap menjadi fondasi kota yang lebih bersih dan tertata.
Sumber: Antara.
