Pemerintah daerah di wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan lewat gelaran apresiasi pemda 2026 batch kedua. Kementerian Dalam Negeri menambah empat kategori penilaian kinerja yang diselaraskan dengan prioritas pembangunan nasional dan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Acara Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Sumatera digelar di Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Rabu, 12 Agustus 2026. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa indikator baru itu merujuk pada Asta Cita, delapan misi utama pembangunan nasional.
Perbedaan fokus batch pertama dan batch kedua
Pada batch pertama, penilaian menitikberatkan empat isu: penanggulangan kemiskinan dan penurunan stunting, entrepreneur government atau creative financing, penurunan tingkat pengangguran, serta pengendalian inflasi. Capaian makro tersebut tetap relevan, namun batch kedua memperluas cakupan ke layanan dasar dan kualitas lingkungan hidup.
Empat kategori baru yang diterapkan Kemendagri meliputi akses serta kualitas layanan kesehatan, akses penduduk terhadap layanan pendidikan, implementasi Program 3 Juta Rumah, dan pengelolaan sampah beserta lingkungan asri. Perubahan ini menuntut kepala daerah menerjemahkan agenda pusat menjadi program yang terasa langsung di tingkat warga.
Sampah dan gerakan ASRI jadi perhatian khusus
Menurut Tito, isu sampah dan lingkungan asri masuk penilaian karena mendapat perhatian khusus Presiden Prabowo. Arahan itu sempat disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul International Convention Center, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 2 Februari 2026.
Dalam forum tersebut, Presiden menekankan penanganan sampah nasional dan mencanangkan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI). Tito menambahkan, Presiden juga menyampaikan rencana mengumpulkan kepala daerah agar kabupaten dan kota benar-benar tampak bersih. Untuk kategori ini, Kemendagri menilai komitmen membangun sistem pengelolaan sampah terpadu, kualitas lingkungan hidup, serta efektivitas program yang berdampak nyata.
- Pengelolaan sampah terpadu dan berkelanjutan
- Kualitas lingkungan hidup yang terukur
- Inovasi lokal yang kolaboratif dan solutif
Program 3 Juta Rumah dan layanan dasar
Program 3 Juta Rumah dinilai sebagai penjabaran Asta Cita ketiga dan keenam. Asta Cita ketiga menekankan lapangan kerja berkualitas, kewirausahaan, dan industri kreatif, sedangkan yang keenam mengarah pada pembangunan dari desa untuk pemerataan ekonomi serta pengurangan kemiskinan.
Penilaian mencakup dukungan kebijakan daerah, percepatan penyediaan hunian layak, dan tata kelola permukiman berkelanjutan. Inovasi berbasis kolaborasi yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat mendapat nilai tambah. Di sisi lain, kategori kesehatan mengukur kemudahan akses layanan, kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional, sanitasi layak, ketersediaan fasilitas sesuai standar, serta pelaksanaan pemeriksaan kesehatan gratis.
Pendidikan merata dan makna bagi daerah Sumatera
Kategori akses penduduk ke layanan pendidikan menilai pemerataan guru, perbaikan sarana, capaian literasi dan numerasi, serta partisipasi masyarakat. Daerah diharapkan menghadirkan layanan yang adaptif demi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Inovasi tetap menjadi unsur penambah nilai di hampir semua kategori.
Bagi pembaca di Medan dan kabupaten/kota se-Sumatera Utara, kerangka penilaian batch II Regional Sumatera menjadi rujukan untuk memantau arah kinerja pemda. Fokus pada kesehatan, pendidikan, hunian, dan kebersihan kota sejalan dengan kebutuhan sehari-hari warga metropolitan maupun daerah penyangga. Apresiasi ini tidak hanya memeringkat capaian administratif, tetapi mendorong program yang memperbaiki kualitas hidup.
Dengan indikator yang lebih dekat ke layanan publik, Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Batch II diharapkan memacu kolaborasi lintas perangkat daerah. Kinerja diukur dari kemampuan mengubah prioritas nasional menjadi aksi lokal yang terukur, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat Sumatera.
Sumber: Tempo.
