Gunung dalam Al-Qur’an tidak hanya digambarkan sebagai bentang alam menjulang. Bagi banyak pembaca Muslim di Medan dan Sumatera Utara, ayat-ayat tentang pegunungan menjadi pengingat bahwa ciptaan Allah SWT menyimpan fungsi, kisah para nabi, dan tanda kekuasaan yang layak direnungkan dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an menyinggung gunung dalam sejumlah konteks: sebagai penopang bumi, latar wahyu, hingga tempat berlabuhnya bahtera setelah banjir besar. Dua nama yang sering dibahas adalah Thursina atau Gunung Sinai dan Gunung Judi, yang masing-masing terkait erat dengan perjalanan Nabi Musa AS dan Nabi Nuh AS.
Gunung digambarkan sebagai pasak bumi
Dalam Surah An-Naba ayat 7, Allah SWT berfirman tentang gunung-gunung sebagai pasak. Redaksi ayat itu menempatkan gunung bukan sekadar hiasan lanskap, melainkan penstabil yang memungkinkan manusia tinggal dengan lebih tenang di muka bumi.
Para mufasir menjelaskan perumpamaan pasak itu seperti tonggak yang dipancangkan agar permukaan bumi tidak mudah berguncang hebat. Dari sudut pandang keimanan, ayat tersebut mengajak pembaca melihat struktur alam sebagai bagian dari rahmat dan keteraturan ciptaan, bukan fenomena netral tanpa makna.
Thursina atau Gunung Sinai dan dialog Nabi Musa
Thursina, yang juga dikenal sebagai Gunung Sinai, merupakan salah satu nama kawasan pegunungan yang dikaitkan dengan kisah Nabi Musa AS. Sejumlah ahli tafsir menempatkannya di kawasan Semenanjung Sinai, Mesir.
Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilal al-Qur’an antara lain menghubungkan Thursina dengan lokasi di mana Nabi Musa AS menerima panggilan untuk berdialog dengan Allah SWT. Penyebutan ini menegaskan bahwa gunung bisa menjadi ruang peristiwa spiritual yang membentuk sejarah kenabian, bukan hanya objek geografis.
Bagi umat yang membaca kisah tersebut berulang kali, Thursina menjadi simbol ketaatan, penghambaan, dan komunikasi antara hamba pilihan dengan Tuhannya. Nama itu pun kerap muncul ketika kajian tafsir membahas fase penting dalam perjalanan Bani Israil.
Gunung Judi dan berlabuhnya bahtera Nabi Nuh
Gunung Judi disebut secara jelas dalam kaitannya dengan kisah Nabi Nuh AS. Setelah banjir besar menimpa kaum yang mendustakan, bahtera berlabuh di kawasan yang dihubungkan dengan gunung tersebut. Al-Qur’an tidak merinci koordinat pasti lokasi modernnya, namun hubungan Gunung Judi dengan akhir episode banjir itu sangat kuat dalam narasi keagamaan.
Penyebutan ini memberi penekanan bahwa keselamatan yang dijanjikan Allah SWT bagi Nabi Nuh AS dan orang-orang beriman yang ikut bersamanya diwujudkan melalui peristiwa yang menempel pada bentang gunung. Gunung Judi dengan demikian menjadi penanda harapan setelah bencana, sekaligus peringatan bagi generasi sesudahnya.
Hikmah bagi pembaca di tanah air
Membaca ulang ayat dan kisah tentang gunung mendorong refleksi sederhana: alam yang tampak kokoh pun tunduk pada kehendak Sang Pencipta. Masyarakat Muslim di Medan yang akrab dengan pegunungan Sumatera Utara dapat menjadikan keagungan bentang lokal sebagai pintu masuk untuk mengingat fungsi gunung sebagai pasak serta jejak kisah nabi yang diabadikan wahyu.
Yang penting dijaga adalah ketepatan makna. Gunung dalam Al-Qur’an dibahas dalam kerangka keimanan dan sejarah kenabian, bukan untuk ditegaskan sebagai destinasi wisata semata atau dikait-kaitkan dengan spekulasi lokasi tanpa dasar tafsir yang memadai.
Dengan menempatkan Gunung Judi, Thursina, dan gambaran pasak bumi dalam satu rangkaian bacaan, pembaca memperoleh gambaran utuh: gunung adalah tanda kekuasaan, penopang kehidupan, dan saksi bisu episod penting umat terdahulu. Renungan itu relevan kapan saja, termasuk saat menatap deretan bukit dan gunung di sekitar Sumatera Utara.
Sumber: Sindo News.
