DAERAH
Indeks
Nasional

Dokter Tegaskan Mandi Malam Tak Picu Rematik, Ini Penyebab Asli Radang Sendi

Keyakinan bahwa mandi malam rematik muncul karena kebiasaan basuh badan di malam hari masih kuat di banyak keluarga, termasuk di Medan dan wilayah Sumatera Utara. Anggapan itu sering diwariskan lintas generasi sehingga banyak orang menunda mandi usai lembur atau aktivitas malam. Fakta medis yang diungkapkan dokter justru mematahkan mitos tersebut.

Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Noah Jefferson Permana, menegaskan bahwa mandi di malam hari—baik dengan air dingin maupun saat udara malam terasa lebih sejuk—tidak menjadi pemicu radang sendi. Penjelasan itu ia sampaikan lewat utas di akun Threads, yang dikutip sekitar awal September 2026, dengan ajakan agar masyarakat tidak lagi takut mandi setelah beraktivitas hingga larut.

Rematik Berkaitan Autoimun, Bukan Jadwal Mandi

Menurut dr. Noah, rematik atau radang sendi berhubungan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh. Pada kondisi autoimun, tubuh keliru mengenali sel normal sebagai ancaman sehingga memicu peradangan pada sendi. Mekanisme itu berbeda jauh dari sekadar membasuh badan di malam hari.

Dengan kata lain, waktu mandi bukan faktor penyebab utama. Orang yang rutin mandi malam tanpa riwayat autoimun tidak otomatis berisiko mengalami rematik hanya karena kebiasaan itu. Pemahaman ini penting agar mitos lama tidak menghalangi kebersihan dan kenyamanan sehari-hari.

Mengapa Mitos Ini Begitu Melekat di Masyarakat

Di banyak daerah, termasuk komunitas urban di Medan, nasihat “jangan mandi malam nanti rematik” sering terdengar dari orang tua. Udara malam yang lebih dingin dan rasa pegal setelah seharian beraktivitas kerap dikaitkan secara keliru dengan munculnya nyeri sendi. Padahal, pegal otot atau kaku sendi bisa berasal dari postur kerja, kurang gerak, atau faktor usia, bukan dari air mandi.

Tanpa penjelasan ilmiah, korelasi semu itu mudah menjadi pantangan. Akibatnya, sebagian orang memilih menunda mandi hingga pagi meski badan sudah lengket keringat, yang justru kurang nyaman bagi kulit dan kualitas istirahat.

Manfaat Mandi Malam bagi Tubuh dan Tidur

Alih-alih merugikan, mandi malam dapat memberi efek positif. Suhu tubuh yang sedikit menurun setelah mandi sering membantu sebagian orang lebih mudah terlelap. Bagi yang kesulitan tidur karena panas atau kelelahan, ritual mandi sebelum tidur bisa menjadi bagian dari rutinitas relaksasi.

Tentu saja, kenyamanan tetap diutamakan: gunakan air dengan suhu yang sesuai preferensi, keringkan tubuh dengan baik, dan segera berpakaian agar tidak kedinginan berkepanjangan. Langkah sederhana itu menjaga manfaat mandi tanpa menambah rasa tidak nyaman.

  • Rematik terkait respons autoimun, bukan jam mandi.
  • Mandi malam tidak membuktikan hubungan sebab-akibat dengan radang sendi.
  • Efek relaksasi mandi malam dapat menunjang kualitas tidur.
  • Nyeri sendi perlu dicek ke tenaga medis bila menetap atau memberat.

Kapan Harus Waspada terhadap Nyeri Sendi

Meski mandi malam aman dari tudingan memicu rematik, keluhan sendi yang berulang tetap perlu perhatian. Bengkak, kaku berkepanjangan, atau nyeri yang mengganggu aktivitas harian sebaiknya dikonsultasikan ke dokter. Pemeriksaan membantu membedakan pegal biasa, cedera ringan, atau kondisi inflamasi yang memerlukan penanganan khusus.

Bagi pembaca di Sumut yang aktif bekerja hingga malam—supir, pedagang, pekerja shift, atau mahasiswa—tidak perlu menahan diri mandi hanya karena pantangan lama. Jaga pola makan, cukupi cairan, jaga berat badan ideal, dan lakukan peregangan ringan agar sendi tetap lentur.

Intinya, kebersihan dan kenyamanan tubuh tidak perlu dikorbankan demi mitos. Dengan memahami bahwa rematik bersumber dari mekanisme imun, masyarakat dapat mandi malam dengan tenang sambil tetap memantau kesehatan sendi secara bijak.

Sumber: Sindo News.

Tag: mandi malam, rematik, mitos kesehatan, radang sendi, autoimun, tips tidur, kesehatan sendi, Medan