Penyanyi senior Ruth Sahanaya memilih jalur independen saat meluncurkan Extended Play (EP) terbaru bertajuk Merindu. Bagi banyak penggemar di Medan dan Sumatera Utara yang tumbuh mendengar lagunya, langkah Mama Uthe ini menarik karena menempatkan kendali kreatif sekaligus tanggung jawab biaya di tangan sendiri.
Berbeda dari era label besar yang menanggung hampir seluruh proses, kini karya itu dijalankan di bawah Roots Sahanaya Production. Ruth mengaku arus kas harus diawasi ketat, dan dana produksi disisihkan secara bertahap sebelum rekaman dan perilisan berjalan.
Perubahan peran setelah lepas dari label besar
Pada masa sebelumnya, urusan studio, arranger, hingga distribusi sering ditangani tim label. Saat berstatus independen, Ruth ikut memantau detail pengeluaran. Ia menyebut perbedaan itu terasa jelas, terutama pada tekanan finansial yang muncul di setiap tahap produksi.
Di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Ruth menyampaikan bahwa struggle pembuatan album kali ini benar-benar berasal dari internal timnya. Uang menjadi isu utama yang memaksa disiplin menabung sebelum proyek dilanjutkan ke tahap berikutnya.
EP Merindu dan kesadaran soal biaya karya
Setelah ikut menghitung langsung, Ruth baru sepenuhnya memahami betapa besar dana yang dibutuhkan agar sebuah EP terdengar layak di pasaran. Ia menggambarkan momen kejutan saat angka-angka pengeluaran tertata: biaya yang harus digelontorkan ternyata jauh dari anggapan awam soal sekadar masuk studio.
Ketelitian itu mendorongnya menimbang ulang prioritas. Setiap pos anggaran dinilai ulang agar kualitas tetap terjaga tanpa pemborosan. Pendekatan ini mencerminkan cara kerja banyak musisi independen yang menyeimbangkan artistik dengan realitas kas harian.
Roots Sahanaya Production sebagai payung karya
Naungan Roots Sahanaya Production menjadi wadah resmi perilisan Merindu. Model ini memberi ruang keputusan lebih cepat soal konsep, personel pendukung, dan jadwal rilis, tetapi menuntut tanggung jawab penuh atas risiko finansial.
Bagi pendengar di Sumatera Utara, termasuk komunitas musik Medan yang aktif mengikuti rilis nasional, EP ini menjadi contoh konkret bahwa nama besar di industri hiburan tetap menghadapi tantangan modal ketika memilih mandiri. Cerita Ruth menegaskan bahwa reputasi tidak otomatis menghapus kebutuhan perencanaan keuangan yang rapi.
Pelajaran disiplin keuangan bagi musisi senior
Pengalaman Mama Uthe menyoroti satu pelajaran sederhana: produksi mandiri menuntut kebiasaan menabung dan pencatatan biaya sejak awal. Tanpa buffer dana, kualitas suara, mixing, hingga promosi mudah terkompromikan.
- Menyisihkan dana bertahap sebelum masuk studio
- Memantau arus kas secara langsung, bukan hanya konsep lagu
- Menilai ulang setiap pos pengeluaran demi hasil maksimal
Langkah Ruth Sahanaya merilis Merindu lewat produksi sendiri memperlihatkan sisi lain karier panjang seorang penyanyi mapan. Independensi memberi kebebasan artistik, namun menuntut keteguhan mengelola uang agar karya tetap layak dinikmati publik luas, dari Jakarta hingga Medan.
Sumber: Sindo News.
