Minat masyarakat Indonesia terhadap pendakian gunung terus tumbuh, termasuk di kalangan pembaca di Medan dan Sumatera Utara yang kerap mencari referensi destinasi alam nusantara. Salah satu puncak yang kerap disebut menantang adalah Puncak Trikora Papua, kawasan di Papua Pegunungan dengan bentang hutan tropis, ketinggian ekstrem, dan nilai ekologis tinggi. Pengalaman menempuh jalur itu kini terdokumentasi dalam buku catatan perjalanan yang baru diluncurkan di ibu kota.
Buku berjudul Mengintip Sepotong Surga karya Juvensius, yang dikenal sebagai Foxs Explore, merekam ekspedisi menuju Puncak Trikora pada 2024. Peluncuran resmi digelar di Alenia Papua Coffee & Kitchen, Jakarta, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Acara itu tidak hanya menandai terbitnya naskah, tetapi juga menjadi ruang diskusi tentang alam Papua, tantangan fisik di medan tinggi, dan tanggung jawab menjaga kelestarian kawasan pegunungan.
Peluncuran buku dan diskusi soal hutan serta ekspedisi
Di sesi peluncuran, hadir Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI Christian Natalie dan pemimpin ekspedisi Ruslan Budiarto. Diskusi dipandu moderator Harun Mahbub Billah. Percakapan mengarah pada gambaran bahwa Puncak Trikora bukan sekadar target ketinggian, melainkan ruang yang menyimpan keragaman hayati, kondisi cuaca yang cepat berubah, serta jejak interaksi manusia dengan alam yang harus dikelola secara bijak.
Materi buku disusun dengan bahasa yang mudah diikuti pembaca umum. Selain narasi perjalanan, naskah dilengkapi foto-foto lanskap Papua dan momen di lapangan. Pendekatan itu dimaksudkan agar pengalaman tim ekspedisi bisa dibaca lebih luas, termasuk oleh warga yang belum pernah ke Papua namun ingin memahami karakter gunung tinggi di timur Indonesia.
Dari rasa penasaran hingga puluhan gunung
Juvensius tidak tumbuh di lingkungan pegunungan. Ia lahir dan besar di Pemangkat, Kalimantan Barat. Ketertarikan pada dunia pendakian baru menguat setelah pindah ke Jawa dan berkunjung ke kawasan Gunung Bromo. Dari situ ia menyadari bahwa gunung dapat didaki, bukan hanya dipandang dari kejauhan.
Pendakian pertamanya ke puncak dilakukan pada 2018 di Gunung Semeru. Sejak pengalaman itu, aktivitas mendaki menjadi bagian penting dalam hidupnya. Hingga kini ia tercatat menjelajahi lebih dari 20 gunung di dalam dan luar negeri. Meski demikian, ia menilai Puncak Trikora memberi tantangan berbeda: selain stamina, dibutuhkan kesiapan mental, perencanaan logistik matang, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan alam yang tidak selalu bersahabat.
Persiapan enam bulan dan perjalanan sekitar sepuluh hari
Sebelum berangkat, Juvensius menyiapkan kondisi tubuh sekitar enam bulan. Latihan fisik dilakukannya agar tidak membebani anggota tim maupun warga setempat yang membantu perjalanan. Sikap itu mencerminkan kesadaran bahwa ekspedisi di kawasan terpencil menuntut disiplin pribadi, bukan sekadar semangat petualangan.
Rangkaian ekspedisi berlangsung sekitar sepuluh hari. Catatan dimulai dari Wamena, dilanjutkan pergerakan menuju kawasan pegunungan, penaklukan medan berat, pencapaian puncak, hingga proses turun kembali dengan selamat. Alur itulah yang menjadi tulang punggung buku, sehingga pembaca dapat mengikuti tahapan perjalanan secara runtut tanpa harus berada di lokasi.
- Lokasi puncak: Papua Pegunungan
- Tahun ekspedisi yang dibukukan: 2024
- Durasi perjalanan: sekitar 10 hari
- Titik awal catatan: Wamena
- Persiapan fisik penulis: sekitar 6 bulan
Pesan pelestarian dan rencana donasi penjualan
Selain menampilkan sisi petualangan, buku ini menekankan pentingnya menjaga kawasan pegunungan yang kaya fungsi ekologis. Diskusi di peluncuran menguatkan bahwa popularitas pendakian perlu diimbangi etika lapangan, penghormatan pada komunitas lokal, serta pemahaman risiko. Bagi pembaca di Medan yang aktif di komunitas alam terbuka, sudut pandang tersebut relevan sebagai pengingat bahwa dokumentasi perjalanan idealnya mendorong tanggung jawab, bukan hanya hasrat menaklukkan ketinggian.
Juvensius memandang menulis sebagai cara memperpanjang makna sebuah ekspedisi. Pengalaman yang semula dinikmati lingkaran tim dapat menjadi referensi publik. Sebagian hasil penjualan buku direncanakan didonasikan kepada Sahabat Kasih Pedalaman dan Yayasan Sisi Baik, sehingga peredaran naskah diharapkan memberi manfaat sosial di luar lingkup pembaca hobi gunung.
Secara keseluruhan, terbitnya catatan menuju Puncak Trikora menambah khazanah bacaan alam Indonesia yang bersumber dari pengalaman lapangan. Bagi pecinta literasi perjalanan di Sumatera Utara, buku ini menawarkan potret medan Papua yang menantang sekaligus mengajak pembaca menimbang ulang hubungan antara petualangan, logistik, dan pelestarian lingkungan. Informasi lebih lanjut mengenai isi dan konteks peluncuran dapat ditelusuri melalui pemberitaan media nasional terkait.
Sumber: Sindo News.
