Pencarian jurnalis hilang Krakatau kembali digelar secara intensif pada Rabu, 9 September 2026, di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Tim SAR Gabungan melanjutkan operasi sejak pukul 07.00 WIB untuk menelusuri speedboat yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau. Berita nasional ini ikut diikuti pembaca di Medan dan Sumatera Utara karena menyangkut keselamatan pekerja media di wilayah rawan.
Menurut rangkaian operasi yang berjalan, kapal tersebut membawa lima jurnalis beserta total delapan orang di dalamnya. Hingga hari kedua, seluruh penumpang masih dalam proses pencarian. Area penyisiran diperluas agar peluang temuan meningkat di kawasan perairan yang sering dilanda kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik yang dinamis.
Pembagian empat unit pencarian di Selat Sunda
Untuk mempercepat jangkauan, kekuatan SAR dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit atau SRU. Masing-masing unit mendapat jalur dan jarak tempuh berbeda agar tumpang tindih area bisa ditekan. Pola ini dipilih setelah evaluasi operasi sebelumnya di sekitar gugusan pulau vulkanik tersebut.
SRU 1 memakai KN SAR Tetuka 247 dengan rencana penyisiran sejauh 68,3 mil laut dan jarak antarjalur sekitar tiga mil laut. SRU 2 mengoperasikan KAL Anyer untuk lintasan sekitar 69,5 mil laut dengan spacing serupa. Dua unit lainnya mengandalkan kapal cepat jenis RIB agar manuver di perairan dangkal dan dekat pantai lebih leluasa.
Jalur RIB di Lampung dan Banten
SRU 3 menggunakan RIB 01 Lampung dengan rencana tempuh sekitar 67 mil laut serta spacing satu mil laut. Spacing lebih rapat itu ditujukan untuk menyisir zona yang dinilai berpeluang menyimpan petunjuk posisi terakhir. Sementara SRU 4 mengerahkan RIB 02 Banten menyusuri jalur sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Pemilihan Pulau Rakata dan Pulau Panjang merujuk hasil evaluasi hari sebelumnya. Kawasan itu menjadi prioritas karena arus Selat Sunda dan kontur pantai bisa mengarahkan benda terapung atau jejak kapal. Koordinasi antarkapal dijaga agar laporan posisi real-time tidak terputus selama penyisiran.
Kondisi operasi dan fokus keselamatan awak media
Operasi berlangsung di perairan yang dikenal padat lalu lintas lokal sekaligus berdekatan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Petugas menyesuaikan formasi armada laut agar tetap aman tanpa mengurangi ketelitian pencarian. Fokus utama tetap pada penemuan delapan orang yang berada di speedboat, termasuk lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak.
Bagi kalangan pers di daerah, termasuk Sumut, peristiwa ini mengingatkan pentingnya protokol keselamatan peliputan di zona bencana atau kawasan laut berisiko. Dukungan informasi dari Basarnas dan otoritas setempat menjadi acuan publik yang ingin mengikuti perkembangan tanpa menyebarkan spekulasi.
- KN SAR Tetuka 247: lintasan 68,3 NM, spacing 3 NM
- KAL Anyer: lintasan 69,5 NM, spacing 3 NM
- RIB 01 Lampung: lintasan 67 NM, spacing 1 NM
- RIB 02 Banten: fokus Pulau Rakata dan Pulau Panjang
Perkembangan yang perlu dipantau publik
Hingga laporan operasi hari kedua, belum ada keterangan resmi tambahan mengenai temuan korban atau kondisi speedboat di luar rincian pembagian SRU. Publik di Medan dan wilayah lain diimbau merujuk saluran resmi SAR agar data posisi, cuaca, dan status pencarian tidak simpang siur. Langkah perluasan area menandakan otoritas masih mengoptimalkan seluruh armada yang tersedia.
Liputan Sumut akan terus memantau kabar lanjutan dari Pandeglang terkait nasib awak media dan penumpang lain di perairan Anak Krakatau. Solidaritas antarjurnalis dan doa keluarga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari operasi kemanusiaan ini, sementara petugas di lapangan tetap bekerja dengan pembagian tugas yang sudah ditetapkan.
Sumber: Sindo News.
