Insiden longsor Bantargebang kembali menyita perhatian setelah gunungan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) kawasan Kota Bekasi, Jawa Barat, beberapa kali ambruk dan menimpa kendaraan pengangkut. Peristiwa ini menjadi pengingat keras soal kapasitas dan keamanan fasilitas pembuangan yang menampung volume besar limbah ibu kota serta daerah sekitarnya.
Bagi pembaca di Sumatera Utara, termasuk Medan, berita ini relevan sebagai cerminan tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang juga dihadapi banyak kota besar di Indonesia. Keselamatan petugas dan pengemudi truk menjadi isu utama setiap kali material sampah bergeser tanpa terkendali.
Kronologi longsor yang menimbun antrean truk
Satu kejadian serupa tercatat pada 7 November 2025. Saat itu longsoran material sampah menimbun beberapa truk yang sedang mengantre di area TPST. Situasi memaksa aktivitas bongkar muat terhenti sementara dan petugas melakukan upaya pengamanan lokasi.
Pengemudi dan petugas lapangan menghadapi risiko tinggi karena tumpukan sampah yang tidak stabil dapat bergeser sewaktu-waktu, terutama setelah hujan atau penumpukan berlebih. Kejadian tersebut menjadi sinyal awal bahwa pengawasan kemiringan dan ketinggian gunungan perlu diperketat.
Ambruknya tumpukan akhir tahun dan kendaraan terperosok
Pada 31 Desember 2025, gunungan sampah di TPST Bantargebang kembali ambruk. Longsoran menimpa truk yang melintas. Tiga kendaraan pengangkut terperosok ke sungai di wilayah Sumur Batu, Bekasi.
Dampaknya tidak hanya menunda operasional harian, tetapi juga menimbulkan risiko pencemaran di aliran sungai sekitar serta membahayakan nyawa pengemudi. Tim di lapangan harus mengevakuasi kendaraan dan mengamankan area agar tidak menimbulkan korban tambahan.
Operasi pencarian dan foto udara lokasi kejadian
Dokumentasi foto udara pada Senin, 9 Maret 2026, memperlihatkan tim penyelamat menggunakan alat berat di lokasi longsor TPST Bantargebang. Mereka mencari korban longsor di kawasan tempat pembuangan tersebut.
Kehadiran alat berat menandakan skala longsoran cukup besar sehingga penanganan manual tidak memadai. Proses pencarian dan pembersihan biasanya memakan waktu, sementara arus sampah harian dari wilayah penyangga tetap harus dialihkan atau ditahan sementara.
- Longsor November 2025 menimbun truk yang mengantre.
- Longsor 31 Desember 2025 membuat tiga kendaraan terperosok ke sungai Sumur Batu.
- Operasi alat berat terdokumentasi pada 9 Maret 2026.
Implikasi bagi kota besar dan pelajaran untuk daerah
TPST Bantargebang selama ini menjadi tulang punggung penampungan sampah kawasan Jabodetabek. Longsor berulang menunjukkan tekanan volume dan risiko teknis di lapangan masih tinggi. Keselamatan pengemudi truk sampah serta petugas kebersihan harus menjadi prioritas setara dengan target pengurangan volume.
Kota-kota lain, termasuk Medan dan kawasan metropolitan Sumatera Utara, dapat mengambil pelajaran soal pemantauan stabilitas tumpukan, jalur evakuasi cepat, serta pembatasan ketinggian gunungan. Tanpa perbaikan tata kelola dan pengurangan sampah dari hulu, fasilitas sejenis tetap rentan mengalami kejadian serupa.
Pemerintah daerah dan pengelola fasilitas diharapkan memperkuat inspeksi rutin, sistem peringatan dini, serta koordinasi dengan dinas terkait setiap kali cuaca ekstrem atau lonjakan volume terjadi. Transparansi data harian dan penanganan cepat pasca-insiden juga dibutuhkan agar kepercayaan publik tidak terkikis.
Rangkaian peristiwa di Bantargebang menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar soal buang dan timbun, melainkan soal keselamatan kerja, lingkungan sungai sekitar, serta keberlanjutan layanan kebersihan bagi jutaan penduduk.
Sumber: Liputan6.
