Pelatihan PPGD ojol yang digelar Korlantas Polri mendapat sorotan positif dari Penasihat Ahli Kapolri Edi Saputra Hasibuan. Ia menilai program itu menandai kehadiran institusi kepolisian yang langsung menjawab kebutuhan warga di jalan raya. Kegiatan berlangsung di Pusdiklantas Polri, Tangerang Selatan, Banten, pada Jumat, 28 Agustus 2026, sebagai bagian dari Gebyar Keselamatan Lalu Lintas.
Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, isu ini relevan karena mobilitas ojek online di kota besar sangat tinggi. Pengemudi yang paham pertolongan pertama gawat darurat berpotensi menjadi penolong awal saat menemui korban kecelakaan sebelum tenaga medis tiba. Fokus pelatihan justru pada keterampilan dasar yang praktis dipakai di lapangan.
Alasan apresiasi penasihat ahli Kapolri
Edi Saputra Hasibuan menegaskan kegiatan tersebut sangat positif bagi Polri maupun masyarakat. Menurutnya, jumlah peserta yang dilibatkan mencapai ribuan orang. Materi yang diberikan dinilai menyentuh kebutuhan pelayanan nyata, bukan sekadar seremoni.
Sebagai Direktur Eksekutif Lemkapi, ia memandang langkah Korlantas memiliki nilai strategis. Ojek online setiap hari beroperasi di ruang publik, sehingga peluang mereka menjadi orang pertama yang menemukan korban laka lantas relatif besar. Bekal PPGD membantu merespons situasi kritis dengan lebih tepat.
Isi pelatihan di Pusdiklantas Polri
Para pengemudi ojol dibekali pengetahuan dasar Pertolongan Pertama Gawat Darurat. Tujuannya agar mereka mampu memberikan bantuan awal ketika menjumpai korban kecelakaan lalu lintas. Tindakan itu dimaksudkan sebagai jembatan singkat sebelum penanganan tenaga medis profesional dilakukan.
Rangkaian acara tersambung dengan agenda keselamatan berlalu lintas yang digagas Korlantas. Pendekatan melibatkan komunitas pengemudi daring memperluas jangkauan edukasi tanpa menunggu warga datang ke pos atau kantor polisi. Model ini menempatkan pelaku transportasi harian sebagai mitra keselamatan.
Mengapa pengemudi ojol dipilih
Kelompok ojek online memiliki pola kerja dengan frekuensi perjalanan tinggi dan paparan risiko jalan yang intens. Mereka sering berada di titik padat, simpang, dan koridor rawan tabrakan. Karena itu, kemampuan mengenali kondisi gawat dan melakukan tindakan awal menjadi aset publik, bukan hanya bekal pribadi pengemudi.
Dari sudut pelayanan, program ini memperlihatkan Polri merespons kebutuhan yang muncul di lapangan. Bukan hanya penindakan pelanggaran, tetapi juga penguatan kapasitas warga yang setiap hari berbagi ruang jalan. Di kawasan urban seperti Medan, pola serupa potensial memperkuat jejaring tolong-menolong antar pengguna jalan.
- Peserta pelatihan: ribuan pengemudi ojek online
- Lokasi: Pusdiklantas Polri, Tangerang Selatan, Banten
- Waktu: Jumat, 28 Agustus 2026
- Fokus materi: dasar PPGD untuk korban kecelakaan
Dampak bagi keselamatan lalu lintas
Jika pengemudi ojol mampu menstabilkan kondisi korban dalam hitungan menit pertama, peluang penanganan lanjutan oleh medis menjadi lebih baik. Edukasi massal seperti ini juga menumbuhkan budaya peduli di komunitas transportasi daring. Apresiasi dari penasihat ahli Kapolri menegaskan arah kebijakan yang ingin lebih dekat dengan kebutuhan harian masyarakat.
Ke depan, konsistensi pelatihan dan penyegaran materi akan menentukan apakah keterampilan itu tetap hidup di lapangan. Kolaborasi antara Korlantas, komunitas ojol, dan pemangku kepentingan lain menjadi kunci agar manfaat tidak berhenti di sesi pelatihan semata. Untuk warga Sumut, pesan utamanya jelas: keselamatan jalan adalah kerja bersama, termasuk bagi mereka yang setiap hari mengantar penumpang.
Secara keseluruhan, pernyataan Edi Saputra Hasibuan menempatkan pelatihan PPGD ojol sebagai bukti konkret pelayanan Polri. Program di Tangerang Selatan itu dinilai strategis karena menyasar kelompok dengan mobilitas tinggi dan membekali mereka agar siap menolong korban laka sebelum bantuan medis datang.
Sumber: Sindo News.
